Showing posts with label My fiction story. Show all posts
Showing posts with label My fiction story. Show all posts

31.8.13

Tale of Agony

Rating: PG +17
Author: Lady Dy
Cast: Lee Donghae, Yoo Nana, Eunhyuk
Type: One shot
Genre: drama
<photo id="1" />
Donghae sedang duduk santai sembari menunggu pesanannya di kafe milik Jun Ho chingu yang eksklusif ketika seorang yeoja cantik meminta ijin untuk ikut duduk di mejanya. Mau tak mau, Donghae mengiyakannya sembari penasaran siapa sebenarnya yeoja ini, apakah dia tidak tahu kalau yang dihadapannya sekarang itu Donghae, sang member Super Junior yang terkenal itu.

“Gomawoyo, sudah mengijinkan aku. Mejanya penuh semua, aku jadi tak kebagian tempat duduk.” ujar yeoja itu sembari tersenyum manis yang langsung membuat Donghae meleleh.

Yeoja itu kemudian memanggil pelayan dan memesan makanannya. Sirloin steak, Chicken Doritang, French fries, Onion ring, Deokbokki, dan mineral water.
<photo id="3" /> Busyet, banyak banget makannya yeoja ini, batin Donghae sambil geleng-geleng kepala. Akhirnya, makanan yang dipesan itupun datang juga, langsung saja yeoja memakannya dengan lahap sekali. Deokbokki, French fire, dan onion ring dimakannya dengan hanya beberapa suapan saja. Kemudian Chicken Doritang yang tandas dalam dua menit. Lapar kali ya ni yeoja, Lagi-lagi Donghae membatin sembari menatap tanpa berkedip kearah yeoja di depannya itu. Merasa diperhatikan, sang yeoja mendongakkan kepala disela-sela menikmati Sirloin steaknya.

<photo id="2" /> “Waeyo? Kenapa melihatku seperti itu?” tanya yoja itu dengan muka bingung.

Donghae tersenyum simpul.

“Ani. Aku melihatmu makan lahap sekali, apakah kau sedang kelaparan?”

“Ah…maaf. Aku memang lapar sekali. Tadi pagi aku belum sarapan, makanya aku balas dendam dengan makan banyak sekali.” Ujar yeoja itu tersipu.

“Apakah kau sering ke kafe ini?”

“Ani. Ini kali pertamaku datang kesini. Kata temanku, Chicken Doritang disini enak, jadi aku mampir buat nyobain”
Donghae manggut-manggut sambil memandangi wajah cantik didepannya. Walaupun suaranya agak aneh, tapi yeoja itu memang luar biasa cantik, hingga Donghae ingin sekali mengelus pipinya yang lembut atau menyentil hidungnya yang mancung itu. Haisssh…

“Oh ya, kalau boleh aku tahu, siapa namamu? Kita sudah bercakap-cakap tapi belum kenal satu sama lain. Namaku Yoo Karin” ujar Yeoja itu sembari mengelap bibirnya dengan tissue. Rupanya dia sudah selesai makan. Donghae yang melihatnya langsung ngiler, dia rela kok menggantikan tissue itu.

“Aku..mmm..Lee Donghae”

“Owh, nice to meet you, Lee Donghae” ujar Nana sembari tersenyum manis. Hanya itu saja. Donghaepun menjadi gusar alang kepalang. Yeoja ini benar-benar tak mengenalnya, padahal dia sudah membayangkan reaksi Karin saat mendengar namanya: yeoja itu langsung berteriak histeris dan memeluknya, atau jika tidak malah pingsan ditempat. Donghae merasa tertipu kali ini.

Tiba-tiba, HP Nana berbunyi, dia pun buru-buru mengangkatnya.

“Hello, ya manajer. Aku sedang makan siang. Ya…oh my gosh, aku lupa kalau hari ini pemotretannya diubah jadwal jadi jam satu, ya..aku akan segera kesana. Di mana alamatnya tadi? Myungdong? OK…aku akan naik taksi. Bye”

“Kau mau ke Myungdong? Tempat itu agak jauh dari sini. Mending jangan naik taksi karena ongkosnya mahal” ujar Donghae kalem.

“Benarkah? Aku baru seminggu disini jadi tidak hafal rute bis atau subway. Lalu, bagaimana ini?” tanya Nana gelisah.
“Aku akan mengantarmu. Kebetulan rumahku searah dengan Myungdong” ujar Donghae masih kalem. Nana pun mengangguk setuju.

<photo id="5" />Donghae sangat senang dengan keberhasilan rencananya. Akhirnya, dia bisa lebih lama lagi bersama yeoja cantik ini. Dari percakapannya di perjalanan, Donghae tahu bahwa Nana adalah seorang artis dari Thailand. Dia dikontak oleh sebuah agency untuk berkarir sebagai model di Korea. Dia baru tiba sekitar seminggu yang lalu dan saat ini tinggal sementara dirumah manajernya. Ternyata, Nana adalah keturunan Korea-Thai, makanya dia bisa berbahasa Korea walau agak kaku. Donghaepun tak melewatkan kesempatan untuk meminta nomor HP Nana ketika mereka tiba di Myungdong.
Malamnya, Donghae tak melewatkan kesempatan untuk menelepon Nana. Entah kenapa, Donghae sudah merasa rindu dengan yeoja itu.
Nana pun menyambut telepon dari Donghae dengan hangat. Kelihatannya, gadis itu tertarik juga dengan Donghae dilihat dari caranya meladeni rayuan maut Donghae. Akhirnya mereka memutuskan untuk berkencan dua hari lagi. Donghae berjanji akan menjemput Karin di apartemennya pada jam delapan pagi.

===================

Donghae menaiki lift apartemen Nana dengan hati berbunga-bunga. Tak sabar rasanya untuk sampai di lantai 15, tempatNana berada. Ketika pintu lift terbuka di lantai 15, Donghaepun langsung melesat keluar menuju kamar Nana di nomor 1535. Akan tetapi, ketika tiba didepan kamar itu, Donghae mendadak berhenti.
Suara dua orang yang sedang bertengkar terdengar dengan jelas dari luar kamar. Kemudian, terdengar barang pecah, dan teriakan kesakitan. Donghae langsung menghambur ke dalam kamar dan menemukan Karin bersama seorang pria disana.

“Nana, kau tidak apa-apa” ujar Donghae seraya mendekati Nana yang bersimpuh di lantai, lalu membantunya berdiri.

“Aku tidak apa-apa, oppa.” ujar Nana pada Donghae, setelah itu memandang pria di depannya.

“Sebaiknya kamu pergi dari sini, Nam. Aku tak ingin menambah keributan lagi” ujar Nana kepadanya. Sang pria yang bernama Nam itu merengut kesal.

“Jangan pernah mengusirku, Nana. Apalagi setelah semua yang aku lakukan untukmu. Dan..oh…siapa dia, Nana? Pacar barumu, heh?" ujar Man sambil menatap Donghae sinis.

“Heh, kamu jangan macam-macam, ya. Aku tidak takut padamu!” Donghae membelalak marah pada Nam.

“Hentikan, Nam. Cukup…mending sekarang kau pergi dari sini, atau ku panggilkan security” ujar Nana seraya mendorong tubuh Nam kearah pintu yang langsung ditepis Nam dengan kasar.

Donghae pun merangsek maju kearah Nam dan menghadiahkan bogem mentah ke muka pria itu. Mendapatkan serangan yang mendadak, Nam langsung terjungkal ke belakang. Setelah beberapa saat, dia pun berdiri sambil menyeka darah yang mengalir dari bibirnya.

“Ah, lancang juga kau anak muda. Baiklah aku akan pergi. Tapi ingat, Nana tak seperti yang kau kira. Kau akan menangis seperti bayi, menyesali semuanya, ingat itu!” ujar Nam sembari melangkah keluar.

Donghae kemudian memeluk Nana dan mendudukkannya di sofa. Nana terlihat shock sekali hingga Donghae tak tega melihatnya. Setelah dibuatkan kopi hangat oleh Donghae, Karin pun berangsur tenang.

“Nana, siapakah orang itu? Kenapa dia berusaha untuk melukaimu? Tanya Donghae penasaran.

“Namanya Nam, oppa. Mantan pacarku. Dia tak terima ku putuskan sebulan yang lalu, dan mencariku ke Korea untuk diajak rujuk”

“Jadi dia mantan pacarmu..tapi kenapa dia tega melukaimu,Nana”

“Dulu sewaktu masih jadi pacarku, dia sering memukulku. Karena sudah tak tahan lagi, akhirnya aku memutuskannya, oppa.”

“Ah, pasti kau sangat menderita, Karin.” ujar Donghae seraya memeluk Karin lagi.

“Sebenarnya, aku kesini, selain bekerja juga punya tujuan lain, oppa.” Ujar Karin setelah lepas dari pelukan Donghae.
“Apa tujuanmu itu?”

“Aku ingin bertemu dengan keluarga Appaku. Mereka tinggal di Ilsan. Tapi aku belum pernah bertemu mereka karena setelah menikah dengan eomma, appaku tidak pernah lagi pulang ke Korea”

“Benarkah? Apakah mereka sudah kau temukan?”

“Belum. Aku sama sekali buta dengan Korea Selatan ini, oppa. Mungkin nanti, kalau aku sudah tinggal lebih lama.”

“Mmm…aku bisa membantumu, Nana. Kebetulan, sepupuku punya kenalan detektif swasta. Kalau kau mau, aku akan menyuruhnya untuk mencari info tentang keberadaan keluarga Appamu”

“Chicayo? Ah, oppa. Gomawo!” ujar Nana seraya memeluk Donghae erat.

=====================

<photo id="7" /> “Iiishh..oppa, jangan disitu” ujar Nana seraya menepis tangan Donghae yang berada di dadanya dan menegakkan badannya di sofa.

Donghae menatap Karin dengan bingung. Sudah tiga bulan mereka jadian, tapi Nana pasti menolak jika Donghae melakukannya. Mereka telah melampaui tahap ciuman French kiss dua bulan yang lalu dan sekarang, Donghae berharap mereka dapat melakukan lebih dari itu. Tapi, tiap kali tangan Donghae mampir di dada atau bokongnya, Nana selalu menepisnya. Padahal, Donghaepun hanya ingin mereka sampai batas itu, bukan tidur bersama, karena dia berprinsip, tidak akan meniduri gadisnya sebelum menikah. Tapi, lagi-lagi Nana menolak.

“Ada apa sebenarnya, jagiya?Apakah kau tak menyukainya? Atau ada yang kau sembunyikan dariku?”

“Apa maksudmu? Apa kau berpikir aku menyumpalnya agar kelihatan lebih besar, begitu?” ujar Nana sambil merengut.

“Eh..bukan begitu. Maksudku, apakah kau mengoperasi bagian itu sehingga kau takut akan rusak bila kupegang, heh?” ujar Donghae sembari tersenyum nakal.

“Isshh…kau begitu cabul, tuan Lee Dong Hae. “

“Aku tidak cabul. Tapi, cuma penasaran..apakah….apakah ini memang asli ataukah…” ujar Donghae seraya jarinya menyusuri leher Nana lalu terus kebawah.

“Ishh…aku peringatkan kau Lee Dong Hae!” Nana menepis tangan Donghae dengan keras.

“Aigoo…sakit, jagiya! Aku beritahu ya, biarpun itu tidak asli, aku akan tetap menikahimu. Mengerti?!”

“Ah, chincayo? Bohong!”

“Ne. untuk apa berbohong. Toh juga kalau aku main-main, aku tak akan mengenalkanmu pada ibuku dan keluargaku di Super Junior”

Nana memandang Donghae dengan mata berkaca-kaca.

“Waeyo?” tanya Donghae penasaran.

‘Apakah kau sungguh-sungguh akan menikahiku, oppa?”

Donghae mengangguk.

“Sebenarnya…aku punya rahasia, oppa. Ketika ku katakan, kau pasti akan segera meninggalkanku”

“Apa itu, jagiya. Katakanlah.”

“Sebenarnya aku….aku pernah operasi plastik, oppa. Di beberapa tempat..di tubuhku ini ada yang tidak asli” ujar Nana sambil tertunduk.

Hening sesaat kemudian meledaklah tawa Donghae.

“Hahaha….rupanya begitu, jagiya. Jadi benar, inimu dan itumu tidak asli. Makanya kau tak ingin aku menyentuhnya..hahaha…” ujar Donghae sambil menunjuk dada dan bokong Nana disela-sela tawanya.

“Aigoo…kenapa kau tertawa, oppa. Isshh..tidak lucu!” ujar Nana marah.

“Ah, jagiya. Kalau masalah itu, aku sih bisa menerima. Kyuhyun dan Yesung juga pernah oplas, juga beberapa temanku yang lain. Hal itu sudah wajar, jagiya. Tak usah berpikir berat soal itu. Satu hal yang harus kau tahu, aku mencintaimu karena hatimu bukan perkara fisik.” Ujar Donghae seraya membelai pipi Nana lembut.

“Mmm..oppa, ada satu lagi rahasia yang ingin aku sampaikan”

“Ah, kau ini..penuh dengan rahasia agaknya. Apa itu, jagiya?”

“Aku….aku..tidak bisa…punya anak. Aku mandul, oppa.”

“Mwo?!” Donghae terbelalak kaget.

========================

<photo id="6" /> Donghae berbaring melamun di sofa dalam kamarnya. Pengakuan Nana tadi siang membuatnya patah arang. Dia tak menyangka akan mendengar kenyataan yang mengejutkan itu dari bibir Nana, wanita yang sangat dicintainya itu. Entah bagaimana perasaan eommanya ketika tahu Nana mandul. Tentu orangtuanya akan menyuruhnya membatalkan niatnya untuk maju ke jenjang pernikahan bersama Karin. Seorang anak begitu penting artinya dalam sebuah keluarga, tapi Karin juga penting dalam kehidupan Donghae.
Tiba-tiba, pundaknya ditepuk oleh seseorang. Ketika menoleh, Donghae melihat Eunhyuk yang tertawa geli sedang memperhatikannya.

“Kau kenapa? Sedari pulang tadi kerjamu melamun saja. Apa kau tak mau makan, Tuh, sayurnya sudah matang.”

“Hyung, aku lagi tak berselera makan. Kau saja yang makan sana” ujar Donghae sambil menghela nafas berat.

“Kau bertengkar dengan Nana? Atau bertambah satu lagi penggagum Nana yang bisa membuatmu gusar setelah Siwon dan Heechul mengaku jadi Nana shippers?” ujar Eunhyuk sambil tertawa.

Mau tak mau, Donghae pun membayangkan peristiwa sebulan yang lalu saat dia membawa Nana untuk pertama kalinya ke dorm. Anak-anak Suju melongo semua dibuatnya. Bahkan Heechul pun sampai ngiler. Memang banyak wanita cantik yang pernah ditemui mereka, tapi Nana terlihat begitu sexy dan eksotis. Akhirnya, Siwon dan Heecul pun mentahbiskan diri mereka sendiri sebagai Nana shippers hari itu juga. Untunglah, Teukie lagi ada schedule, kalau tidak, jadilah saingannya tambah banyak. Bila ingat kejadian itu, Donghae jadi galau sendiri. Melepaskan Nana yang begitu perfectpasti akan membuat dirinya frustasi. Apalagi banyak namja dengan air liur menetes-netes di luar sana. Membayangkannya saja bisa membuatnya begidik ngeri.

“Mmm..ini masalah Karin, hyung. Dia…mm..dia ternyata tidak bisa punya anak. Aku bingung” ujar Donghae sambil berkaca-kaca.

“Mwo? Nana tidak bisa punya anak? Chincayo?” tanya Eunhyuk terkejut.

“Ne. Dia mengatakan padaku tadi siang. Aku bingung, Hyung. Aku benar-benar mencintainya dan aku ingin sekali menikahinya. Tapi, kalau keadaannya seperti ini, pasti akan sulit sekali. Eomma dan appaku pasti akan menentangku. Bagaimana ini, hyung?”

“Memang akan berat jika kau tetap maju, Haeya. Tapi jika kau benar-benar mencitainya, jika ada niat, tak akan ada yang mustahil. Itu tergantung pada hatimu. Tanyalah kepada hati nuranimu, maka kau akan menemukan jawabannya” ujar Eun Hyuk sembari menepuk-nepuk bahu Dong Hae.

Tiba-tiba, suara dering telpon menyeruak keheningan. Ternyata panggilan dari Lee Joon, detektf yang disewa Donghae untuk mencari keluarga ayah Nana. Donghaepun langsung berharap, semoga dia memberi kabar baik ditengah kabar buruk yang diterimanya hari ini.

“Lee Dong Hae sshi, aku sudah mencari keluarga tuan Yoo Seung Ho di Ilsan. Banyak yang marga Yoo disini, tapi ada dua keluarga yang mendekati deskripsimu walau tak sepenuhnya sama. Kedua keluarga tesebut mengaku bahwa putra mereka yang bernama Yoo Seung Ho menikah dengan perempuan Thailand. Kedua orang itu juga sama-sama sudah meninggal, dan dimakamkan di Thailand. Tapi yang berbeda adalah, pada keluarga pertama, mereka mengaku bahwa anak mereka mati tanpa meninggalkan anak. Sedangkan di keluarga kedua mengaku bahwa anak mereka memiliki seorang putra dalam pernikahannya tersebut. Jadi, kedua keluarga tersebut tak ada satupun yang mempunyai cucu perempuan bernama nona Yoo Karin.”

“Oh, benarkah? Apakah memang begitu? Apa kau sudah mengecek seluruh keluarga bermarga Yoo di Ilsan?” tanya Donghae dengan raut muka kecewa.

“Ne. Aku sudah mengecek semuanya. Mmm..tapi aku akan mencoba mencarinya ke rumah singah dan daerah kumuh. Siapa tahu ada yang belum terdata”

“Baiklah, silahkan mencari. Aku tunggu info selanjutnya. Gamsahamnida”

Donghae menutup telponnya dengan lesu. Kabar tentang keluarga ayah Nana masih juga gelap. Sedangkan masalahnya makin rumit saja. Donghae tersenyum dengan getir.

“Tenangkan hatimu, Haeya. Mending kau cari hiburan saja untuk mendinginkan kepalamu. Oh ya, besok Teuki akan menjadi bintang tamu di acara Miss Tiffany Korea, mending kau ikut saja.”

“Miss Tiffany Korea? Itu acara apa, Hyung?”

“Kontes kecantikan para waria Korea. Baru pertama kali ini digelar. Aku penasaran, bagaimana wujud mereka. Aku juga tak bisa membayangkan Teukie ditengah-tengah para waria, haha….” Ujar Eunhyuk sembari tertawa terbahak-bahak.
“Baiklah, aku akan ikut. Mungkin dengan menontonnya bisa sedikit menghiburku.”

===============================

Seoul Grand Hotel Hall @1.30 pm

Anak-anak Suju duduk di deretan kursi pengunjung dengan rapi. Kali ini mereka semua hadir untuk memberi semangat pada Teukie yang menjadi MC tamu dalam acara Miss Tiffany Korea. Sengaja mereka memilih untuk duduk dideretan agak belakang agar tidak terlalu mencolok. Menjadi selebriti di Korea memang harus waspada, jika tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak mnengenakkan seperti bertemu dengan fans fanatik, misalnya.
Kursi undangan sudah penuh terisi tanda acara akan segera dimulai. Donghae sengaja mematikan ponselnya agar da bisa mengistirahatkan sejenak otaknya yang penuh. Sebenarnya, dia sudah memutuskan tentang kelanjutan hubungannya dengan Karin, tapi itu akan dilakukannya nanti setelah selesai acara ini. Dia sudah berketetapan hati untuk melanjutkan hubungannya dengan Nana, bahkan dia sudah mempersiapkan cincin pertunangan mereka. Dia terlalu mencintai gadis itu dan akan berkorban segalanya.
Para penari dengan jambul warna-warni dikepalanya membuka acara dengan tarian energik ditingkahi dentuman musik yang house yang menggema ke seantero ruangan. Bisa dipastikan bahwa kesemua penari berbusana longdress silver berkilauan itu adalah waria, walau mereka begitu cantik dalam busana mereka. Kata Eunhyuk yang sudah membaca buku resume acara, mereka aslinya adalah penari kabaret dari sebuah Cabaret House terkenal di Asia Tenggara.Tarian tersebut berakhir dan kini muncullah sosok yang yang mereka tunggu-tunggu, Teukie berjalan menuju tengah-tengah panggung ditemani oleh dua orang penari tadi. Anak-anak Suju bertepuk tangan meriah ketika Teukie memberikan sambutan ringan dan mengumumkan bahwa acara kontes Miss Tiffany Korea resmi dibuka.
Kemudian, Teukie mengumumkan bahwa dia akan ditemani oleh seorang MC tamu. Dia adalah pemenang kontes Miss Tiffany di negaranya pada tahun 2010 lalu. Anak-anak Suju pun berkasak-kusuk dan mulai menerka-nerka, secantik apa orangnya. Donghae hanya tersenyum-senyum sembari memandangi Teukie yang agak grogi malam itu. Dia memang belum terbiasa benar menjadi MC, apalagi untuk acara sebesar itu.

“Baiklah, ladies and gentleman, mari kita sambut MC tamu kita yang cantik, Miss Tiffany Thailand”

<photo id="8" /> Suara gemuruh tepuk tangan membahana ketika Sesosok tubuh langsing berbalut tube dress panjang berwarna hitam gemerlapan memasuki panggung acara. Wanita itu kemudian memposisikan dirinya disamping Teukie yang membungkuk memberi salam. Dia sangat cantik sekali, apalagi dengan gaun hitamnya yang membuat matanya jadi lebih bersinar serta senyumnya yang menawan. Wanita itu benar-benar seorang dewi, bahkan tak ada yang menyangka bahwa gadis itu adalah seorang transgender.
Donghae menatap sosok MC itu dengan tatapan yang sulit diidentifikasi. Tanpa sadar, mulutnya ternganga lebar. Anak-anak Suju yang sedari tadi riuh meneriaki Teukiepun seketika hening. Mereka begitu terpana dengan sosok yang baru saja hadir disamping Teukie.

“Annyonghaseyo, chonun Yoo Nana imnida…….” Sang dewi memperkenalkan dirinya di depan para hadirin, yang langsung disambut dengan hangat. Akan tetapi, bagai disambar petir Donghae mendengarnya. Wanita itu..benar benar Karin. Gadis yang sama yang telah menaklukan hatinya beberapa bulan teakhir, gadis yang teramat dicintainya, bahakan akan dinikahinya dengan sukarela, gadis itu…..adaah seorang waria.

Serangkaian gambar flashback mendadak muncul dari pikiran Donghae, seolah diputar kembali dari ingatannya. Tentang pertemuan pertamanya di kafe, tentang suara Nana yang agak aneh, tentang Nam, mantan Nana yang berteriak bahwa dia akan menyesal, tentang ciuman-ciumannya dengan Nana, tentang Nana yang tak mau dipegang bagian tubuhnya, tentang pengakuan Nana yang oplas dan tak bisa punya anak, tentang info dari Lee joon bahwa salah satu keluarga bermarga Yoo itu hanya memiliki cucu laki-laki….gambar-gambar itupun menyatu menjadi sebuah frame yang membuat Donghae akhirnya memahami atas apa yang terjadi. Bahwa wanita yang dicintainya itu adalah seorang transgender, bahkan mereka sudah sering melakukan French kiss. Membayangkannyapun sudah membuat Donghae mual. Mendadak, tubuhnya menjadi lemas, Donghaepun merosot ke lantai. Eunhyuk yang pertama kali tersadar langsung berteriak panik. Teriakannya menyadarkan anak-anak Suju yang masih bengong melihat sosok yang mereka idolakan,Yoo Nana, yang kini tengah memberikan sambutan hangat. Big screen pun menampilkan senyum lebar Teukie yang memandang wanitatransgender disampingnya dengan tatapan terpesona. Hari ini memang benar-benar shocking.

======the end=====

7.7.12

My Sacrifice


MY SACRIFICE

Like a melody of the morning breeze after the night’s storm,
Like a warm shine of the sun after the rain,
Every human wants a happy ending,
Though life often offers the different choice
and it cost a lot of sacrifice

Lee Donghae lekat menatap formulir kontak ditangannya dengan pandangan bahagia. Akhirnya, kerja kerasnya selama ini terbayar sudah. Penantiannya selama bertahun-tahun yang diselingi banyak keringat dan air mata tak menjadi sebuah kesia-siaan belaka. Seoul FC, klub yang diidam-idamkannya selama ini akhirnya menemukan bakatnya dan berniat untuk mengontraknya untuk memperkuat kesebelasan itu di liga utama negeri ini. Tak ada yang lebih membanggakan dari pemain amatir seperti dirinya kecuali naik level menjadi pemain profesional, apalagi debutnya kali ini langsung di sebuah klub papan atas Korea. Benar-benar sebuah dream come true untuk Donghae.
“Aigoo…sepertinya gembira sekali dirimu. Selamat ya, Haeya, akhirnya kau berhasil menembus Seoul FC” ujar Lee Hyuk Jae, rekan Donghae di Kwon Sang FC sembari duduk dihadapannya. Donghaepun hanya tersenyum-senyum simpul mendengarnya.
“Ayolah, langsung saja kau tandatangani, kau mau berpikir apalagi, Haeya? Mmm…apa kau masih memikirkan orangtuamu yang tak menyetujui keinginanmu untuk menjadi pemain sepakbola profesional?” tanya Hyuk Jae serius.
“Itu salah satu yang sedang kupikirkan, hyung. Kau kan tahu bagaimana orangtuaku. Selama ini, aku main sepakbola secara sembunyi-sembunyi. Apalagi kan kita bermain di liga amatir yang kompetisinya fleksibel. Kalau aku bermain di Seoul FC, tentunya aku tak bisa menyembunyikannya lagi” ujar Donghae sambil menundukkan kepala.
Donghae memang sedang mengalami dilema. Selain

7.12.11

WHICH STAR ARE YOU FROM ?: CHORUS

CHORUS


Bau disinfektan segera menusuk rongga hidung ketika Hyun melangkahkan kaki memasuki Busan National University Hospital. Hari ini, dia mendapat khabar bahwa Yong dirawat di rumah sakit ini, jadi dia segera meluncur untuk memastikan keadaan Yong.
Hyun tiba dikamar VIP no. 10 itu dengan perasaan gelisah. Dia segera mengetuk pintu dan melangkah masuk. Di ruang tamu, Hyun bertemu dengan ibu Yong yang bermata sembab, kelihatannya dia sedih sekali. Setelah berbasa-basi dan meminta ijin, akhirnya Hyun memasuki ruangan Yong.
Hyun melihat Yong berbaring telentang di tempat tidur. Kepalanya diperban dan sebuah selang infus  menancap di lengannya. Hyun langsung menghampiri Yong dan berdiri di sisi tempat tidur.

“Oppa, bagaimana keadaanmu?”ujar Hyun sembari menatap Yong khawatir. Yong membuka matanya pelan.

“Oh, Hyun ah, kau disini. Syukurlah” ujar Yong seraya menarik tangan Hyun hingga dia dapat memeluk tubuhnya.

“Oppa, waeyo? Sebenarnya apa yang terjadi?” ujar Hyun sambil duduk di sisi ranjang.

“Mereka datang, Hyun. Mereka membunuh Ye Jie” ujar Yong bergetar.

“Mereka itu siapa oppa? Apa maksudmu?”

Hyun melepaskan pelukan Yong dan menatapnya ingin tahu.

“Pemburumu, Hyun. Mereka mengira Ye Jie itu dirimu, lalu mereka membunuhnya!”

“Aigoo….andwe….benarkah itu, oppa? Ottoke…ottoke..”

Hyun pucat seketika. Pikirannya menjadi galau. Akhirnya apa yang ditakuti mulai mengintainya lagi. Melihat hal itu, Yong kemudian mengenggam tangan Hyun.

“Hyun ah, jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja.”ujar Yong menenangkan Hyun.

“Tapi, secepatnya kau harus pulang, Hyun. Sangat berbahaya jika kau keluar disaat seperti ini, apalagi kalau mereka sampai tahu identitasmu. Hyun, segera hubungi tantemu, suruh dia menjemputmu sekarang!” lanjut Yong dengan bersungguh-sungguh.

Hyun pun menurut dan segera menghubungi tante Min Jee. Tak lupa, dengan gemetaran Hyun pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tante Min Jee meresponnya dengan cepat. Dia berkata akan segera menjemput dalam lima menit, di depan pintu rumah sakit.

“Oppa, karena aku kau jadi terluka seperti ini. Dan Ye Jie unnie, dia…meninggal juga karena aku. Mianhanda.” ujar hyun sembari tertunduk.

‘Aku baik-baik saja, Hyun. Kau tak perlu risau seperti itu. Yah, mungkin memang takdir Ye Jie harus meninggal seperti itu. Ikhlaskan saja. Dia sudah damai di sisiNya sekarang. Sekarang ini yang perlu kita pikirkan adalah kau, Hyun ah. Kau harus selamat.”

“Tapi oppa, bagaimana denganmu? Di dekatku, kau juga akan dalam bahaya.”

Air mata menetes di kedua pipi Hujn. Yong pun langsung memeluknya erat.

“Shhh…jangan menangis, Hyun ah. Aku akan bertahan sebaik-baiknya. Aku kan Jung Yong Hwa."

Tiba-tiba, cellphone Hyun bordering. Rupanya tante Min Jee sudah sampai. Yong pun menyuruh Hyun untuk segera turun.

“Hyun ah, jaga dirimu. Sampai jumpa.” Ujar Yong melepas kepergian Hyun.

Ketika sampai pintu, Yongpun tiba-tiba berteriak.

“Hyun ah, tunggu sebentar”

“Mwo,oppa?”

“Hyun ah…saranghanda” ujar Yong sembari menatap Hyun lekat-lekat.

--------------------------00-----------------------------

Gimhae International Airport, Busan : 08.15 pm

Hyun menatap sebuah berita belasungkawa di Busan Daily Post dengan hari teriris. Disana terdapat ucapan belasungkawa anak-anak Blue Code atas meninggalnya Kim Ye Jie, sang kibordis yang tewas tadi malam. Hyun tidak hanya sedih karena tidak bisa menghadiri upacara pemakamannya esok hari, tapi juga karena dialah penyebab kematian Ye Jie.
Hyun menatap papan informasi keberangkatan di depannya, pesawatnya akan take off sepuluh menit lagi. Masih ada waktu untuk mengirim pesan terakhir kepada Yong, batin Hyun dalam hati. Ah, Yong….tak ingin rasanya Hyun meninggalkannya. Apalagi setelah dia mendengar apa yang Yong katakana tadi siang. Hatinya meledak oleh kembang api warna-warni saat Yong menyatakan cintanya, sayang sedetik kemudian langsung meredup oleh bahaya yang akan menghantui mereka jika tetap bersama. Maka, Hyun pun memutuskan untuk menuruti perkataan tante Minje untuk segera pergi dari Busan. Meninggalkan Yong agar orang yang dicintainya itu lepas dari bahaya.
Akhirnya, disinilah dia sekarang. Di antara hiruk-pikuk bandara, menunggu pesawat yang dibeli tiketnya secara mendadak siang tadi dan tumpukan koper yang berisi barang-barang yang diambilnya secara acak karena mereka pergi dengan sangat tergesa-gesa. Hyun pun segera mengirim pesan kepada Yong ketika didengarnya announcer mengumumkan panggilan terakhir kepada penumpang agar naik ke pesawat. Setelah melihat pesannya terkirim, Hyun buru-buru membuang cellphonenya ke tempat sampah.

Di sebuah tempat, 3 kilometer jauhnya dari bandara. Firefly puas melihat kata message received yang tercetak dilayar laptopnya. Urusannya dengan boss telah selesai sepenuhnya sekarang. Laporannya telah dikirim lengkap beserta foto-foto gadis yang terbunuh itu. Sengaja dia tak menyebut anak lelaki yang bersamanya karena dia tidak mau timbul masalah dikemudian hari karena dia gagal membunuhnya juga. Toh juga anak lelaki itu tidak menyebut apa-apa tentang dia pada polisi yang menginterogasinya. Itu sudah cukup membuat Firefly lega. Anak itu memang tidak bodoh.
Tiba-tiba cellphone yang tergeletak di atas meja bergetar. Cellphone itu milik si anak lelaki. Fire fly mengambilnya ketika anak itu masih pingsan. Buru-buru, Firefly menekan tombol on untuk membukanya. Terliaht sebuah pesan singkat dilayarnya yang biru.

Oppa, aku harus pergi sekarang.
Mianhe, tapi aku tak ingin oppa terluka lagi karena aku.
Cukup Ye Jie unnie saja yang menjadi korban,
karena akulah yang mereka buru, bukan kau.
Biarlah aku menghilang dari kehidupanmu
Jaga dirimu baik-baik.
Selamat Tinggal.

Firefly menatap pesan itu dengan marah. Ternyata gadis yang dibunuhnya itu bukanlah orang yang selama ini dia cari.Sekarang, gadis sialan itu malah kabur entah kemana. Boss tidak boleh tahu tentang hal ini. Kalau tidak, dia pasti akan membunuhku, batin Firefly kesal. Kemudian, Firefly melihat pengirim message itu, tercetak nama Seo Hyun disana. Seketika senyumnya melebar. Minimal dia mendapatkan petunjuk tentang gadis itu. Fireflypun segera beranjak dari duduknya dan melangkah pergi. Dibulatkan tekadnya untuk menemukan gadis itu, apapun caranya.

-----------------------------00-----------------------------------

Lima tahun kemudian, di sebuah rumah di kota Nagano, Jepang.

“Mika-san, apakah tanteku jadi pergi ke Tokyo tadi pagi? Aku sama sekali tidak mendapat sinyal di gunung, jadi aku tidak bisa menghubunginya.” tanya Seo Hyun yang sekarang dikenal sebagai Aiko Takahara kepada Mika Yueno, pelayannya.

“Haik. Dia bilang padaku akan pulang Minggu depan. Selain menjenguk nyonya Saki, katanya juga akan mengunjungi mertuanya sekalian, makanya lama. Kakek Jiro sangat ingin bertemu dengan cucunya.”

Aiko tersenyum. Jiro, keponakannya itu memang sangat menggemaskan. Tak heran, siapa saja pasti sangat menyayanginya. Akikopun sangat merindukan Jiro saat ini. Kepergiannya ke camp di gunung mengharuskannnya berpisah dengan malaikat kecilnya itu selama dua minggu.

“Oh ya, nona, tadi pamanmu juga berpesan. Nanti sore akan datang tamu sebanyak 10 orang dari Tokyo. Mereka akan menginap selama dua hari disini untuk syuting. Kenji-san memintamu untuk memenuhi kebutuhan mereka selama disini."

Aiko mengerti. Perkebunan apel milik pamannya itu memang terkadang di datangi oleh orang luar. Biasanya adalah anak sekolah atau kayawan perusahaan yang berkarya wisata atau sekedar refreshing. Apalagi untuk musim panen seperti sekarang ini, banyak sekali yang datang untuk melihat buah apel yang bergerombol menggoda bahkan membantu memetik apel.

“Baiklah, sekarang aku harus pergi ke rumah Toru chan. Bulan lalu, ibunya telah memintaku untuk mengajarinya piano lagi. Katanya akan ada resital bulan depan. Aku tidak enak jika membiarkannya terlalu lama” ujar Aiko.

“ Oh ya, Mika san, tolong kau siapkan makan malam untuk para tamu ya, yang mudah saja. Bumbu kari instan bibi masih kan? Buat itu saja. Mungkin aku pulangnya agak malam, jadi sekalian kau sambut para tamunya. Aku pergi dulu ya”

Mika-san mengangguk mengerti kemudian meneruskan pekerjaannya di dapur.

--------------00------------------

Aiko memakai mengganti sandal rumahnya lalu melangkah keluar. Matahari hampir condong ke barat, ketika Aiko menyusuri jalan setapak disamping kebun apel. Aiko memang sangat menyukai jalan itu. Pemandangan di kanannya adalah kebun apel pamannya yang sekarang berbuah lebat, menciptakan sensasi warna merah spektakuler diantara hjau daunnya. Sementara di sebelah kirinya terdapat jajaran pohon willow dengan ranting-ranting yang merunduk menyentuh tanah.
Damai rasanya berjalan disana di sore hari begini, seperti kedamaian yang dirasakan Aiko selama lima tahun ini. Berangsur-angsur, dia dapat melupakan peristiwa itu. Kasih sayang tante Min Jee dan keluarga barunya membuatnya cepat sembuh dari lukanya. Ya, sejak kedatangannya ke desa Shirae, daerah Nagano ini, lima tahun yang lalu, hidupnya bagai kipas angin yang berputar sangat cepat. Paman Kenji adalah kenalan lama tante Min Jee, yang sekarang telah berganti nama menjadi Mina, sebelum akhirnya mereka menikah setahun setelah mereka tinggal di Jepang. Mereka pun mengangkat Hyun menjadi anak angkat mereka dan mengganti namanya menjadi Aiko Takahara. Keluarga itupun menjadi lebih ramai dengan hadirnya Jiro, anak lelaki tantenya dua tahun kemudian. Hyun aka Aiko telah merasakan bahwa apa yang dipunyainya telah lengkap sepenuhnya, wallu sesekali dia masih memikirkan seseorang yang ada di kota lamanya, Busan. Jung Yong Hwa, nama itu belum sepenuhnya terhapus dari ingatannya.

“ Aiko san, terima kasih kau sudah datang” ujar Nyonya Kanagawa sambil mempersilakannya masuk.
Aiko mengangguk takzim lalu mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

“Maaf nyonya, saya baru datang hari ini.”

“Oh, tidak apa-apa, aku tahu kau sibuk. Panen akan dimulai minggu depan bukan?! Aku tahu bagaimana sibuknya menjelang panen seperti ini. Oh ya, akan aku panggilkan Toru dulu, silakan duduk” ujar Nyonya Kanagawa seraya masuk kedalam.

Tak lama, seorang anak kecil berusia delapan tahun masuk ke ruang tamu, diikuti ibunya yang sibuk mengutak-atik tas tangannya.

 “Nah, Toru, hari ini kau akan berlatih piano dengan Aiko. Belajar yang baik ya” ujar Nyonya Kanagawa kepada putranya. Kemudian dia berkata kepada Aiko.

“Aiko san, saya tinggal sebentar ke minimarket ya. Ada beberapa barang yang harus saya beli. Tolong ajari Toru ya. Permisi.”

Aiko pun mengajak Toru chan untuk duduk didepan piano. Segera, dia memainkan sebuah lagu anak-anak untuk pemanasan. Toru san, dengan muka ditekuk, pelan-pelan mengikuti Aiko. Setelah memainkan beberapa lagu, Aiko kemudian membuka buku musik yang ada diatas piano, dan membuka halaman yang memuat karya Beethoven “Fur Elise”. Toru memainkan jemarinya ke tuts piano sambil sesekali melirik not balok dihadapannya.
Aiko melihat permainan piano toru dengan seksama. Anak itu memang memikili bakat bermain piano yang baik, terbukti lagu Fur Elise yang baru dipelajarinya dapat dimainkannya dengan bagus. Hanya sayangnya, hari ini Aiko sama sekali tidak mendapat feel dari lagu itu. Permainan Toru tersengar seperti robot. Ada yang tidak beres, pikir Aiko. Kemudian, dia menghentikan permainan Toru ditengah sesi latihan.

“Toru chan, ada apa? Kenapa kau tidak bersemangat hari ini?”

“Aku tidak apa-apa, Aiko san.” Jawab Toru sambil tertunduk.

Aiko tetap saja mendesak Toru untuk mengatakan yang sebenarnya karena dia hapal betul kebiasaan murid pianonya itu. Tidak mungkin kalau tidak apa-apa. Akhirnya, Toru pun menceritakan masalahnya pada Aiko.

“Berjnjilah untuk tidak menjauhiku setelah kau mengetahui hal ini, Aiko san. Hanya kau yang bisa ku percaya.” Ujar Toru chan dengan serius. Aiko pun mengangguk.

“Aku..aku sudah tidak punya teman lagi disekolah, Aiko san. Teman-temanku menjauhiku,mereka..mereka takut padaku. Bahkan ada yang menjulukiku sebagai penyihir. Aku..aku tidak seperti itu, Aiko san” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
“Memangnya apa yang kau lakukan, Toru chan? Apa kau mengancam mereka?” tanya Aiko lembut.

“Tidak, aku tidak mengancam mereka. Waktu itu…kami sedang bermain bola di lapangan. Tiba-tiba, bolanya menyangkut diatas pohon. Kami kebingungan karena tak ada tangga atau bangku disitu. Ada beberapa temanku yang mencoba untuk memanjat pohon, tapi karena terlalu tinggi, mereka tidak berani untuk naik lagi. Aku pun sangat takut karena itu bola milik kakak kelas. Dia akan memukuli kami jika menghilangkan bolanya.” ujar Toru seraya menyeka air matanya dengan punggung tangan.

“Akhirnya, entah kenapa, ketika aku panik dan memandangi bola itu, tubuhku tiba-tiba saja teangkat ke atas dan aku bisa meraih bola itu dengan kedua tanganku. Ketika sadar, teman temanku sedang memandangiku dan menjerit histeris. Akupun langsung menjatuhkan bola dan turun ke lapangan. Teman-temankupun langsung berlari sambil menjerit-jerit. Sejak saat itulah, mereka menjauhiku."

“Benarkah apa yang kau katakan, Toru chan? Kau bersungguh-sungguh?” Hyun membelalak tak percaya.

“Baiklah, akan kuperlihatkan padamu, Aiko san” ujar Toru sambil seketika melesat naik setinggi dua meter ke udara. Dia bergerak meliuk-liuk kepojok ruangan, lalu kembali keatas kepala Aiko sambil bersalto. Toru lalu mengulangi gerakannya lagi, kali ini dia meluncur vertical ke tanah dengan kepala dibawah, sambil menekan-nekan tuts kesayangannya dan memainkan lagu Are you sleeping? . Aiko yang terbengong-bengong seketika tersadar dari lamunanya dan segera menarik tangan Toru sambil berteriak.

“Hentikan, Toru chan! Ayo, turunlah!” ujar Aiko yang dengan sekuat tenaga menarik tangan Toru. Torupun segera turun dan duduk disampingnya.

“A..ada apa, Aiko san?”

“Toru chan. Berjanjilah padaku. Jangan melakukan itu lagi. Kau mau kan?” ujar Aiko sambil memeluk Toru erat.

“Memangnya kenapa, Aiko san?”

“Karena..karena itu sangat berbahaya. Ada orang-orang yang tak suka dengan anak-anak yang memiliki kemampuan sepertimu. Lalu mereka akan memburu dan menyakiti anak-anak itu. Toru chan, berapa kali kau melakukannya sejauh ini?”

“Baru dua kali ini, Aiko san. Oh, aku sangat takut. Bagaimana ini? ujar Toru dengan panik.

Aiko kembali memeluknya.

“Sudah, tidak perlu cemas. Ada kakak disini. Tapi ingat, jangan sekali-kali kau melakukannya lagi, Toru chan. Karena Para pemburu itu punya alat canggih yang bisa mencari keberadaanmu dari jarak yang jauh.” Ujar Aiko sungguh-sungguh sembari berharap apa yang dilakukan Toru chan tidak terdeteksi oleh para pemburu.

Sayangnya, doa Aiko tak terkabul karena di suatu tempat, alat deteksi berkedip-kedip sembari menampilkan koordinat negara Jepang di sebuah layar lebar. Sang chief pun langsung menekan nomor seorang Paladin yang selalu siap sedia melakukan tugasnya dalam keadaan seperti ini, Firefly.

--------------------00---------------------

 Aiko kembali ke rumah dengan hati galau. Dia sama sekali tak bisa tenang mengetahui kenyataan bahwa Toru juga memiliki kekuatan seperti dirinya.Rawa khawatir menghantuinya karena para pemburu itu tak akan tinggal diam.
“Nona, kau sudah kembali? Rombongannya sudah datang dua jam yang lalu, sekarang mereka sedang menunggu makan malam di ruang makan sayap timur. Oh ya, kata manajernya, dalam rombongan itu ada beberapa orang Korea dan dia meminta kalau bisa ada makanan korea disetiap makannya, minimal kimchi lah. Bagaimana, nona? Apakah perlu saya keluarkan kimchi buatan Nyonya?” cerocos Mika san tatkala Aiko baru saja menginjakkan kakinya dirumah. Aiko merespon dengan mengangguk pelan. Badannya terlalu letih untuk meladeni asistennya itu. Tapi kemudian dia teringat sesuatu.

“Oh ya, Mika san, tolong jangan bilang apa-apa tentang asal usulku dan tante yang orang Korea, mengerti?!” ujar Aiko sembari beranjak ke kamarnya.

Mika san mengangguk walau dalam hati dia bertanya-tanya.
Keesokan harinya, Aiko bangun sangat terlambat. Tadi malam praktis sampai subuh dia tidak tidur sama sekali. Matanya sama sekali tak bisa dipejamkan karena dalam pikirannya berkecamuk berbagai hal yang mencemaskannya. Dia pun buru-buru turun ke dapur untuk membantu Mika san.

“Konichiwa, Mika san. Maaf aku bangun terlambat.Kau sudah memberikan sarapan untuk para tamu?” tanya Aiko setelah tiba di dapur. Mika san menjawab salamnya dengan anggukan hangat.

“Tidak apa-apa, nona. Aku tadi mengintip ke kamarmu, kulihat tidurmu sangat nyenyak, jadi aku sayang untuk membangunkanmu. Para tamu sudah selesai sarapan. Sutradara dan krunya sudah berangkat ke kebun, sedangkan yang lain masih tinggal di kamarnya. Lebih baik nona menyusul ke kebun, nona kan belum menyapa mereka ” ujar Mika san sambil mengupas bawang.

Aiko mengangguk kemudian melangkahkan kakinya menuju kebun apel. Semilir angin pagi sesekali mempermainkan rambutnya yang coklat Burgundy. Dia suka sekali warna rambutnya yang sekarang. Sengaja Aiko memilih warna itu agar matanya terlihat lebih hidup. Aiko memang seolah berusaha untuk menjadi pribadi yang baru setelah kepergiannya dari Korea. Dia memilih untuk mengubah penampilannya dari gadis sekolah yang pemalu menjadi lebih fashionable dengan menambahkan make up dan mengecat rambutnya. Bahkan tantenya pun tidak dapat mengenalinya saat dia pulang dari salon untuk pertama kali.
Akhirnya, Aiko tiba di lokasi syuting. Dua orang Kru sedang mencoba untuk menyokong ranting-ranting pohon apel yang sarat akan buah apel ranum agar mendapat ruang untuk pengambilan gambar, sedangkan seorang lagi sedang melapisi bagian bawah pohon dengan karpet plastik. Aiko bejalan menghampiri sang sutradara dan manajer yang sedang bercakap-cakap, kemudian menyapanya mereka dengan sopan. Rupanya sang sutradara adalah kenalan lama paman Kenji. Dia sudah lama terpesona dengan kebun apel ini hingga memilihnya untuk lokasi video klip yang sedang digarapnya. Setelah berbasa-basi sebentar, Aiko pun segera undur diri untuk kembali ke rumah. Sengaja dia berjalan diantara pohon-pohon apel dan tak memilih jalan setapak yang ada karena dia ingin mencari sedikit ketenangan batin disana.
Setelah berjalan beberapa saat, sayup-sayup Aiko mendengar derai tawa dari arah jalan setapak. Mungkin itu para tamu yang lain, batinnya. Dengan rasa ingin tahu, Aikopun mengintip dari balih sebuah pohon apel yang brimbun kearah datangnya suara. Ternyata benar dugaannya. Empat orang pemuda sedang berjalan menuju lokasi syuting sambil bercanda. Kelihatannya mereka akrab satu sama lain. Salah satu pemuda yang berbadan paling tinggi terlihat sedang mempermainkan topi rekannya yang memiliki eye smile sambil tertawa-tawa. Sementara, dua pria lainnya, memperhatikan mereka sambil terkikik menutupi mulut. Jarak mereka dengan tempat Aiko bersembunyi semakin dekat, hingga Aikopun semakin jelas melihat mereka. Tiba-tiba, Aiko memekik tertahan sambil menutup mulut tatkala salah satu pemuda yang terkikik geli tadi melepaskan tangannya dari mulut. Dia adalah…Jung Yong Hwa.

---------------------00--------------------

Aiko duduk di atas dahan sebuah pohon apel rindang, di bagian kebun yang lain dengan pikiran galau Jung Yong Hwa benar-benar berada di sini dan dia sangat tidak siap untuk bertemu dengannya hari ini. Sebenarnya sih dalam hatinya, entah disudut mana, ada setitik kebahagiaan tatkala melihatnya Tapi ketakutan sepenuhnya masih menguasai pikirannya, ditambah lagi peristiwa dengan Toru chan kemarin yang masih menghantuinya hingga kini
Sayup-sayup dia mendengar kegaduhan di lokasi syuting Musik telah diperdengarkan, sebuah irama rock yang ceria.Tentunya itu lagu baru mereka, pikir Aiko sendu. Alunan musik itu mengalir hingga sang Vokalis tiba di bagian verse, Aiko tiba-tiba tersentak. Lagu itu seolah familiar baginya.Ya, dia pelan-pelan ingat, bahwa lagu itu adalah lagu yang dinyanyikan Yong di bangku taman dekat kantor pos Busan, lima tahun yang lalu, dan lagu itu khusus dibuat Yong untuknya. Aiko tercenung sembari mendengarkan lagu itu, menajamkan telinganya agar bisa mendengar liriknya baik-baik. Tak terasa, sebutir airmata jatuh dipipinya. Aiko pun masih saja tergugu di tempatnya duduk tatkala musik yang di dengarnya sudah lama berhenti dan matahari telah condong ke arah barat, menyisakan lerat-lerat cahayanya yang kuning keemasan jatuh dirumpun-rumpun apel, membuatnya berpedaran. Tiba-tiba…

“Hei, kau yang diatas sana. Bolehkah aku duduk disitu juga Sepertinya nyaman sekali”

Sebuah suara membuat Aiko membeku sesaat. Dia sangat familiar dengan suara itu. Setlah pulih dar terkejutnya, Aiko serta merta mmneghapus airmatana yang tanpa sengaja membuat rambutnya jatuh didepan muka hingga orang itu tidak dapat melihat wajahnya

“Oh,mm…kau mau duduk di sini? Silakan saja, aku sudah selesai kok. Baiklah, aku akan turun” ujar Aiko gugup sembari berusaha turun dari dahan pohon yang lumayan tinggi itu.

Entah karena gugup atau ingin secepatnya pergi, akhirnya sewaktu medarat, Aiko kehilangan keseimbangan dan seketika tubuhnya oleng kesamping. Terkejut, dia menumpukan berat badannya ke kaki kirinya, yang tak mampu menopang seluruh berat badannya hingga akhirnya Aiko limbung ke samping. Sebuah buni berdebam membahana ketika tubuhnya menyentuh tanah.

“Hei nona, kau tidak apa-apa?”

Sebuah tangan menjangkau bahunya dari belakang. Buru-buru, Aiko menepisnya dan berusaha berdiri, sembari tetap menjaga rambutnya agar menutupi muka.

“Aku tidak-apa-apa terima kasih. Aku pergi dulu” ujar Aiko sambil berlalu, walau dirasakannya nyeri yang amat sangat mulai merambati kaki kirinya itu Membuat jalannya terpincang-pincang. Dia terkilir rupanya.

Mendadak, sebuah tangan melingkari tubuhnya dengan erat hingga Aiko terbantu jalannya.

“Aku akan membantumu, nona. Alihkan berat tubuhmu ke badanku” ujar cowok tadi sambil menyejajari langkah Aiko Mau tak mau, Aikopun menurut sambil mengarahkan langkahnya ke rumah Perasaannya campur aduk hingga dia tak mampu berkata-kata hingga mereka tiba di beranda rumahnya Mika san yag sedang menyiram bunga langsung berteriak panik.

“Ya tuhan….nona, ada apa? Kau terluka ya?”

“Tolong ambilkan balsam. Aku akan mencoba mengobati kakinya yang terkilir” ujar Yong Hwa seraya mendudukkan Aiko ke bangku kayu.

Mika san mengangguk dan langsung berlari ke dalam, beberapa saat kemudian dia datang sambil membawa balsam. Yong langsung mengambilnya dan mulai mengurut kaki Aiko. Mika san pun minta diri untuk meneruskan pekerjaannya di dapur.
“Kakimu sudah ku pijat, hari ini kau beristirahatlah. Besok pasti kakimu sudah membaik”

“Arigato” ujar Aiko pelan dan tanpa sadar menyibakkan rambutnya yang menutupi muka ke belakang. Ketika matanya bersirobok dengan Yong, seketika dia sadar apa yang telah terjadi Lelaki di depannya itu memandang dengan ekspresi terkejut.

“Kau..kau….Hyun ah! Kau..Seo Hyun?” ujar Yong dengan mulut ternganga.

Hyun serta merta memasang tampang datar, walaupun hatinya bergolak hebat. Tidak, kali ini dia tidak boleh luluh, hingga Yong tahu dia memang Hyun. Dia harus menyembunyikan identitasnya karena akan sia-sia saja pelariannya ke Jepang selama lima tahun jika Yong menemukannya. Seohyun sudah mati sejah lima tahun, batin Aiko getir.

“Maaf, apa maksudmu? Aku Aiko, bukan Seohyun. Kau ini salah orang.” Ujar Seohyun dengan ketenangan luar biasa.

“Ah, aku tak percaya. Walau kau sudah mengubah dandananmu dan memakai make up seperti ini, tapi aku masih bisa mengenalimu, Hyun Ah.Kau jangan bohong kepadaku” ujar Yong sembari memegang sedua bahu Aiko. Aikopun berusaha untuk melepaskan diri.

“Aku tidak berbohong, kepadamu. Maaf, tapi namaku benar-benar Aiko Takahara. Jika kau tidak percaya. Cek saja kartu identitasku. Maaf, aku tidak kenal dengan wanita yang kau bicarakan itu. Mungkin kami mirip, tapi aku bukanlah dia!” ujar Aiko dengan nada tinggi.

“Tapi…tapi kau….”

Perkatan Yong terpotong oleh suara derum mobil yang memasuki halaman rumah pertanian itu. Setelah mobil itu berhenti di depan rumah, keluarlah seorang pria setengah baya berbusana resmi. Mengetahui ada tamu yang datang, Hyun pun segera membenahi rambutnya dan menegakkan duduknya, sembari bertanya-tanya siapakah gerangan orang itu.

-------------00----------------

Firefly memelankan laju mobilnya ketika melewati gerbang desa Shirae.Dia sedikit bernafas lega karena desa ini begitu terpencil hingga butuh waktu lama untuk menemukannya. Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat, pertanda malam hampir segera tiba. Fireflypun berpikir untuk menunda perburuannya hingga esok hari dan memilih mencari penginapan. Kata orang di desa sebelah, di Shirae tidak ada rumah penginapan, satu-satunya home stay di desa itu adalah di sebuah perkebunan apel di ujung utara desa. Fireflypun segera mengarahkan mobilnya kesana.
Pemandangan yang elok di desa Shirae membuat Firefly menjadi rileks. Apalagi ketika dilihatnya deretan pepohonan apel yang berjajar rapi disisi jalan, membuatnya ingin segera beristirahat. Firefly kemudian membelokkan mobilnya saat sampai di gerbang perkebunan apel dan memarkirnya tepat di depan rumah pertanian itu. Dia melihat sepasang anak muda sedang bercakap-cakap di beranda rumah. Kebetulan sekali, pikir Firefly senang. Dia bisa langsung meminta kamar untuk beristirahat, jika mereka adalah pemilik rumah. Tiba-tiba, Firefly tertegun melihat salah satu dari kedua orang tersebut. Sepertinya dia pernah bertemu dengan lelaki itu.

--------------00--------------